all about love..

Cinta tak selamanya jadi perekat. Buktinya, yang tak saling cinta, yang akhirnya bersatu atas nama lain dan bukan atas nama cinta, dapat selalu bersama. Sementara yang saling cinta, dipisahkan oleh nama-nama lain yang bukan cinta, bisa terpisah, bahkan sebelum sempat bersama dalam waktu yang terbilang singkat.

Hidup itu memang aneh. Katanya ia, hidup itu, ada karena cinta. Tapi di sisi lain, ada hidup yang tanpa cinta dan tetap “hidup”. Lalu katanya, cinta adalah nafas kehidupan. Jadi, jika ada kehidupan yang tanpa cinta, masihkah hidup itu bernafas? Dan kalau masih tetap terlihat ada, dengan apakah hidup itu bernafas?

Ada yang bilang bisa mati kalau sampai ditinggalkan yang dicintai, tapi kenyataannya orang yang dicintai dengan orang lain – tidak juga mati. Andaikata bunuh diripun juga orang pasti sedihnya cuman seminggu habis itu lupa, bahwa kamu  berjuang hingga mati untuk cinta.

Aku tak banyak tahu tentang menjalani hidup dengan sesuatu atau seseorang yang tak kucintai. Tapi aku tahu untuk apa aku hidup, (si)apa yang aku cintai, dengan apakah hidupku dapat terus dihidupkan. Sayangnya, buatku itu semacam kemewahan.

Entah berapa lama aku harus menabung untuk dapat menikmati kemewahan semacam itu. Semoga pada akhirnya, aku dapat memberikan paru-paru yang tepat untuk hidupku – sebelum aku mati di kehidupan kini.

Kalau pun tak sempat, izinkan aku, Semesta, untuk memberikan hidupku di kehidupan yang nanti sepasang paru-paru yang sehat dan sempurna. Yang kiri akan kuberi nama Cinta dan yang kanan akan kuberi nama sesuai dengan nama lelaki itu. Lelaki yang menjadi sebelah paru-paruku di kehidupan yang sekarang.

Dan jantungku, Semesta, akan kuberi sesuai dengan NamaMu. Anggaplah aku sedang menjilat pantatMu, karena aku tak tahu lagi rayuan macam apa yang dapat kuucapkan agar Kau menjadikan inginku sebuah nyata; bukan hanya harap semu semata. Tapi memang Kau layak mendapatkan kehormatan semacam itu. Ini bukan rayuan picisan, atau semacam salep pantat rasa stroberi.

Sungguh.

Jadi, Semesta: apakah cinta itu perekat, atau malah “cinta” yang jadi perekat?

Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur.

Terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s