Somepeole ….

ClickHandler.ashx.jpg

Yang namanya hubungan relationship, baik itu sebagai keluarga, temen atau relasi ngga pernah akan berjalan mulus. Kalau mulus banget malah saya yang bingung, ini sinetron aja ada banyak ngga mulusnya…ada masalahnya kok hidup relationship ngga ada masalahnya. Rasa ego nya manusia inilah yang kadang susah untuk dikendalikan. Kita cenderung sangat mengutamakan ego – ya namanya juga manusia. Tapi seiring dengan perjalanannya waktu paling tidak kita belajar mengurangi ego. Apalagi usia sudah tidaklah balita atau muda lagi, paling tdk belaajar mengurangi ego kita.

Dan tentunya dengan usia yang sudah tidaklah muda lagi seperti sekarang, tentu banyak relasi, temen kel yang lalu lalang dalam hidup kita. Ada yang datang dalam hidup kita membawa hal hal yang *menguntungkan* untuk kita, dan menganggap itu adalah kebaikan – berkat. Namun ada yang membawa *masalah*dlam hidup kita dan kita anggap sebagai trouble maker. Dan tidak ada berkat nya sama sekali, jangan kan berkat baiknya aja ngga ada. Dan segera setelah itu kita meninggalkan orang orang yang tidak berkenan ini, melupakan tentunya atau menghindari. Bahkan untuk bersilaturahmi sekedar menemui sudah males. Dan saya adalah orang yang seperti ini.

Hingga suatu hari, saya bertemu dengan sahabat lama saya…temen dan juga seperti kakak saya ( matur nuwun mas Dede ). Begitu banyak cerita yang kami share dan diskusikan. Tiba saatnya dalam salah satu share diskusi kami, dimana saya merasa temen ini bener bener menjengkelkan. Bermasalah dan membuat masalah, pokoknya yang kriteria menyebalkan untuk saya. Kali ini saya bener bener sedikit tertohok dengan kalimat Mas Dede. Bagimana tidak, sesuatu hal yang susah saya lakukan dan biasanya saya tidak melakukannya. Kalau orang yang krg berkenan untuk saya, biasanya yang bermasalah dengan saya – saya cenderung tidak mau berhubungan lagi. Bersilaturahmi pun juga ngga. Sometimes saya perlakukan juga mereka sama dengan cara mereka memperlakukan saya. Biar ngerasa awalnya. Tapi ternyata bener, orang yang bermasalah dengan kita itu adalah ujian untuk kita. Dimana kita harus belajar untuk memafkan dan tidak memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan mereka kepada saya ( tentunya perlakuan negatif ). Jadi intinya, ngga membalas lah.. karena sebenernya kita manusia cenderung melakukan hal yang sama dengan yang orang perlakukan.

Sebagai pengingat, dan pembelajaran, Di jakarta ini saya punya om dan tante yang dari kecil dengan ibu saya. Bahkan saya sdh menganggap seperti kakak saya, bukan tante. Anak anak mereka juga sudah cukup dekat. Saya sering berkunjung kerumahnya, bahkan hampir tiap minggu awalnya. sebulan sekali dan seringlah. Tapi anak anak mereka tidak pernah kerumah saya – bahkan ketika liburan panjang aja ngga pernah. Disisi lain kadang kalau ego muncul, ego saya berkata ” lah sana lebih muda dan saya selalu ke rumahnya kok anak anaknya ngga pernah kerumah. ya sudah saya ngga usah sana juga “. Pernah seperti itu awalnya, tapi setelah saya pikirkan lebih dalam. Ya sudah ngga masalah. Saya kesana bukan hanya untuk mereka ( ponakan yang lebih muda ) tapi karena bapak ibu mereka yang lebih tua. Dan mau ngga mau saya mesti menghargainya. Bagaimanapun juga, mereka juga keluarga lebih tua. Dan kecil saya juga pernah digendong sama mereka. Dari sini saya mulai belajar, bahwa orang lain datang dalam hidup kita itu sebagai ujian. Ujian kenaikan derajat kita. Bila kita bisa berlaku lebih bijaksana dalam menyingkapinya.

Pun ketika salah satu rekan saya meninggalkan saya, dan membentuk usaha sendiri yang sama persis dengan apa yang saya kerjakan. Menyabot customer saya. Dan kadang saya malah merasa geli melihatnya. Yang dulunya pergi barengan kemana mana kek sodara, terus begitu ada masalah ngga taunya pergi sendiri sendiri. Eh ketemu ketemu ditempat yang sama dan hanya cengengesan, kok bisa ya kita barengan. Padahal sebelum berangkat saya info kalau mau kesana. Tapi ngga ada respon mau pergi ahkirnya ketika saya berangkat – eh ketemuan di tempat yang sama. Saya sebenernya ngga apa sih, ketemuan tapi kok kesannya malah lucu. Biasanya barengan ini ga barengan tapi ketemuan ditempat yang sama. Temen saya yang satunya sempet jengkel, dan bilang besok besok ngga usah mau untuk ketemuan atau pun jalan barengan. Dari sini saya mulai belajar untuk menjinakkan ego. Mulai berpikir apabila saya melakukan hal yang sama tentu ngga akan bedanya sama dia. Jadi saya putuskan untuk tidak melakukan hal yang sama. Biarlah mereka berlaku seperti itu, tapi saya harus bisa melakukan yang baik. Ngga usah di besar2 kan ego yang selama ini kelaparan. Dan ini lah saat dimana Allah menguji kita lewat orang lain. Dimana orang lain ini menjadi pembelajaran untuk kita, dimana apabila kita bisa – tentu Allah akan menaikkan derajat kita. Bukan hal yang mudah untuk tetep berbuat baik dan yang terbaik untuk orang orang yang telah membuat kita terluka. Tapi ya gimana lagi. Kita harus belajar…

Namun ada juga orang lain, yang di datangkan untuk kita agar kita belajar berani. Dulu saya ngga pernah bisa yang namanya menagih hutang. Biarpun uang saya sendiri. Sekarang terus terang saya mulai belajar, menagih apa yang menjadi hak saya. Kalau ngomong masih belum bisa, mendingan pake text. yang penting kita menyampaikan. Entah apa alasannya dan bagaimana omongannya yang sering membuat saya kadang yang malah sakit hati, Biarkanlah. Tetep berusaha bicara dan mengutarakan maksud kita, menyelesaikan masalah ngga hanya meninggalkan masalah satu dan berlaku seolah olah ngga ada masalah. Apapun hasilnya, kita bisa belajar dari orang orang seperti ini yang dihadirkan dalam hidup saya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s