Pondok pembelajaran hafal al quran – atau – pembelajaran ahlak.

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengunjungi ponakan yang bersekolah di Salah satu pondok di solo. Pertama tama melihat kondisi pondoknya. Sempet kaget juga, karena masih terbilang cukup jauh dr pondok cabang yang sama di malang. Kebetulan kakak dr ponakan yang di solo ini dulu sebelumnya bersekolah di Salah satu pondok di malang. Adapun pertama saya memang tujuannya adalah mengambil ponakan yang tengah sakit herpes. Paling tidak memeriksakan ulang di dokter yang lebih bagusan dari sebelumnya.  Ketika ketemu, saya tanyakan apa sudah diperiksakan, dan katanya sudah – oleh orang tua murid yang dititipi mamanya. Jadi malam begitu datang saya hanya memeriksakan ulang penyakitnya. Kembali resep diberikan dan juga salep. Mengingat herpes merupakan penyakit syaraf. Jadi ya perlu waktu lama untuk membaik. 

Selama perjalanan dr pondok ke hotel – ceritaaa aja banyak banget. Mungkin karena kangen ya. Salah satu yang menarik ketika saya nanya barang barangnya dimana ? Seperti handuk peci dll dan termyata dibilang kalau barangnya diambil temennya. Kaos kaos pun diambil ketika temennya nanti pulang baru dipake. Saya bilang apa ngga ada lemari ? Jawabnya ada. Tapi lemarinya juga di bobol jadi ya sama aja. Terus ?? Sudah lapor ke ustadnya ? Apa pembimbingnya ? Jawabnya sudah. Dan komentar pengasuhnya – bilang ” kalau di pondok barang hilang ya sudah biasa. Banyak kok yang ngalami dan banyak yang nyolong. Terus terang saya kurang sreg mendengar jawaban tersebut, Bagaimana tidak, wong niat hati menyekolahkan anaknya di pondok yang berbasis agama ya tentu aja biar arnaknya paham agama. Lha paham agama kok nyuri dianggap biasa ? 

Setelah ngomong ngomong, kami ajak ponakan ke mall. Saalah satu mall besar di solo. Dia bilang masuk ke mall ini banyak mudaratnya. Yang punya orang kafir. Terus waktu jam sholat, diajaklah sama suami ke mushola . Dia bilang, lhoo mushola ada di mall ? Suami bilang ya fasilitas umum pasti ada. Kamu ke mall kalau mau nyolong nyopet dosa – tapi kalau sekedar maen dan makan ya ngga akan dosa. Belanja juga boleh asal yang sesuai dengan kebutuhan. Ngga berlebihan. Sebenernya saya cukup sedikit ngenes mendengar jawaban ponakann saya tersebut. 

Islam itu mengajarkan segalannya dengan lembut dan kasih sayang. Ketika agama di buat kaku dan keras kok rasanya gimana gitu. Belajar agama boleh dan yang terutama belajar ahlak jangan hanya agamanya apal al quran tapi ahlaknya ngga jalan. Seharusnya kalau sudah bisa menjalankan sholat – ahlaknya pasti mengikuti dong. Tapi kenapa kok kadang hasilnya berbeda ? Karena ya menjalankan syariat hanya untuk menggugurkan kewajiban tapi tidak di imbangi dengan rasa. Berdoa hanya sekedar berdoa tapi ngga ada pengimbang dalam rasa. Nah itu yang susah. 

Tang lebih syok lagi ketika saya tanya. Pas 17 an ada upacara kah ? Dan dijawab ngga ada, hanya mengucapkan sumpah pondok. Rasanya ngenes…. trenyuh. Ini sebenernya gimana ?? Berdiri di indonesia, bernafas di indonesia kok seolah olah ngga berasa di Indonesia. 

Saya berharap ke depannya Depag dan Dikbud bisa memantau lebih detail dan jelas mengenai sekolah sekolah yang berbasis pondok. Dengan aturannya dan pengajarannya, mudah mudahan semakin diperhatikan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s