Birokrasi – vs – hilangnya rasa kemanusiaan

http://www.tobatabo.com/2425+bayi-debora-meninggal-di-rs-mitra-keluarga.htm
Berkaca dari masalah bayi Debora, saya mulai mempertanyakan apalah ini memang birokrasinya yang seperti itu atau memang sudah hilangnya kemanusiaan ? Kalau memang birokrasinya seperti itu apakah tidak ada yang namanya sedikit kebijaksanaan ? Saya rasa kebijaksanaan itu sebenernya ada, hanya saja rasa kemanusiaannya sudah hilang. Sekarang begitu mencuat, rasa penyesalan yang muncul dari pihak RS MITRA KELUARGA kalideres – bukan penyesalan atas meninggalnya bayi Debora tapi penyesalan kenapa waktu minta DP 5 jt diterima kok ngga diterima. Sekarang jadi masalah yang berimbas kemana mana. Selain citra rumah sakitnya tentu saja yang paling ngaruh adalah saham. 
Ngomong masalah Birokrasi – tentu saja ya sampai di manapun, hukum dll tentu saja aturannya seperti itu. Birokrasinya juga akan seperti itu dalam jalur hukumnya. Dan kebijaksanaan itu ngga akan tertulis, karena lahir dari sisi lain dari birokrasi ( kemanusian / sosial ). Andaikata Pak Hotman Paris kekeh mempertahankan bahwa RS MITRA KELUARGA sudah benar dan sesuai dengan birokrasi. Di informasikan juga kalau memang mereka tidak mengetahui di awal bahwa bayi Debora merupakan peserta BPJS. Saya katakan itu sedikit aneh. Diawal yang mana ? Bukankah mereka menyuruh mencarikan rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS ? Diawal ini dimana nya ? Kalau pada saat datang…terus ke meja langsung ngomong anak saya pake BPJS dan Orang tua Bayi Debora ga ngomong seperti itu. Tentu ini bener. Lah cuman, kalau setelah membayar dp dan ternyata kurang – baru ngomong kalau peserta BPJS dianggap bukan pemberitahuan diawal ya bisa saja. Sisi mana kita melihatnya, kalau omongan seperti itu sudah dianggap penyampaiann info kalau mereka peserta BPJS saya rasa bisa di terima kok. Hanya saja tentu RS pasti cari pembenarannya. Dengan sedikit menambahkan bahawa mereka tidak mengetahui diawal – mereka beranggapan akan cukup untuk sebuah pembenaran. 
Disini saya sebenernya mulai mempertanyakan. Pada waktu mendiirikan RS ini apa ngga ada niatana untuk membantu orang – menolongnya ? Atau melihat sisi bisnisnya Buat rumah sakit bagus. Bangun sekian dan akan BEP sekian ? Kalau memang seperti itu dasarnya ya tentu aja wajar ngga ada sisi kemanusiaannya. Hanya profit oriented. Bisnis. Kalau ada yang meninggal seperti bayi debora hanya karena kurangnya DP tentu saja mereka beranggapan hal wajar mungkin lo ya.. dan saya rasa management di RS tersebut sudah di train untuk tidak menggunakan sisi kemanusiaan tapi menggunakan birokrasi yang berlaku. Lah kalau saya yang jadi orang yang ditemuin si orang tua debora pada saat menitipkan uang DP, untuk menolak / mengatakan harus DP full dengan kondisi anak seperti itu sudah ngga bisa lagi, ngga akan tega. Makanya itu saya katakan adanya hilangnya rasa kemanusiaan. Dimana menyebabkan tidak munculnya ( adanya ) kebijaksanaan. Sementara sebenernya ada juga pasal dimana mengatakan bahwa rumah sakit harus menerima pasien yang dalam keadaan darurat tanpa menggunakan DP. Keinget omongan Bapak Jokowi reformasi mental. Bukan birokrasinya aja yang diperbaiki tapi mentalnya juga mesti diperbaiki. 

Salah satu rumah sakit yang cukup bagus, yang pernah saya alami – RS di batubulan, Gianyar. Bali. Dulunya memang rs ibu dan anak. Sekarang berkembang menjadi rs umum. Pengalaman saya beberapa kali disana cukup baik. Waktu operasi melahirkan anak saya yang ke 2 dan 3 dan ketika anak yang ke 2 sakitpun, pelayanan bagus diberikan tanpa uang muka. Penanganan nya cukup bagus. Berbeda dengan rs lain di Bali, seperti Sanglah ( baik yang wings ) maupun yang bukan, atau pun rs lain yang cukup besar d Bali. Salah satu karyawan saya, pernah mengalami kejadian – kecelakaann kerja, pembuluh nadinya putus. Kami bawa ke sanglah, tanpa uang muka – RS sanglah tidak mau melakukan operasi. Jadi ya kalau dibilang birokrasi ya memang seperti itulah birokrasinya. Berbeda dengan ketika ada juga kakak dari karyawan saya di Ubud yang akan melahirkan, ketika akan melahirkan niat dengan normal termyata ada permasalahan. Dimana harus melakukan operasi, dan penanganan pun dijalankan. Sementara pembayarannya bisa di cicil. Pertamanya saya sempet ngga percaya, boleh di cicil – cuman karena orang yang mengalami saya kenal, baru saya percaya. 
Lepas dari semua itu, hal yang paling menjadi dasar tulisan saya ini, biar kedoknya sosial seperti rumah sakit. Pelayanan. Tapi tidak semuanya mengarah kepelayanan lebih mengarah ke Komersial. Profit oriented. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s