Urip kui wancine sinau. Sinau noto ati, noto lambe, noto budi, noto pakerti lan noto rejeki sing dititipne marang kawula kalian Gusti ingkang paring gesang. Neng ojo pernah lali ngumpulke amal lan ibadah, minongko umur ngga ono seng ngerti.

Almh. Soekesi Soedjiman –

Hidup itu saatnya belajar. Belajar menata hati, menata ucapan, menata perbuatan, menata pikiran dan menata Rejeki yang merupakan titipan dari Alloh SWT.  Tapi jangan lupa beribadah dan mengumpulkan amal baik, karena sampai kapan umur kita tidak akan ada yang tau. Kalimat ini bukanlah kalimat yang asing ataupun yang pertama saya denger. Jaman saya masih sd aja, eyang saya sering ngomong ini. Pernah suatu ketika sehabis nonton pertunjukan kethoprak di Gedung Fatimah – Madiun, tepatnya jalan ringin. Dimana waktu itu pertunjukannya dr ketoprak tulungagung – siswobudoyo tengah memainkan cerita yang cukup seru ” suminten edan “. kisah yang berlatar belakang daerah saya sendiri – Ponorogo. Suminten edan ini berkisah tentang warok suromenggolo yang menjodohkan anakanya ” suminten ” sesuai dengan keinginannya. Namun suminten melarikan diri dan menjadi gila. Setelah ketemu dan warok suromenggolo menyadari maksudnya dan meminta maaf. Ahkirnya anaknya mengaku kalau hanya berpura bura gila karena tidak mau di jodohkan. Sekilas ceritanyaa aja, bukan inti dari apa yang ingin saya sampaikan. 

    Sepulang dari menonton ketoprak biasanya eyang membelikan saya jajan baru pulang ke rumah naik becak langganan eyang. Rumah yang cukup jauh jaraknya ditempuh dengan becak ( dulu masih terasa jauh ) sekaeang naik motor 10 menit nyampe. Dalam perjalan naik becak suatu ketika eyang pernah ngomong seperti itu. Penjelasan panjang lebar juga ngga ada masuk dikepala karena saya lebih asyik dengan kacang rebus yang dibelikan eyang. Setelah bertahun tahun, apa yang dibilang eyang memang bener. Jadi hidup adalah masa kesempatan untuk belajar hal hal tersebut diatas. Jadi ketika kita berada diatas ( sedikit diatas ) tidak “merasa” sombong. Bahkan sadar bahwa apa yang kita punya adalah titipan Allah, dan tentu saja akan kita pertanggung jawabkan kelak diwaktunya. Semua perbuatan baik lisan pikiran dan perbuatan kita pun ada masa untuk kita mempertanggung jawabkannya.

    Dan ketika kita tidak belajar setiap harinya untuk hal yang sederhana saja, “rasa” dan “ego yang kelaparan yang akan menguasai “. Semuanya dipandang dari egonya, hingga melupakan sedikit rasa kerendah hatian kita. Yang paling parah ketika kita tengah diuji dengan ujian rejeki yang lebih dari cukup, tapi omongan dan bahasa kita serta pikiran dan perbuatan menyatakan yang sebaliknya ( ketidak cukupan rasa kerendahhatian ). 

    Semoga kita dijauhkan dari hal semacam itu. mari belajar mengasah rasa ….

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s