Mengungkit masalah yg telah lewat pada saat ada masalah

Sering kali kita mendengar beberapa orang selalu mengungkit masalah yang telah lewat apabila tengah menghadapi masalah. Bukan hanya masalah rumah tangga saja tapi masalah pekerjaan. Dan saya bukan orang yang tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dalam lingkungan keluarga, rumah tangga saya pun beberapa kali pernah, dan tentunya pekerjaan. Berkaca dari hal tersebut yang pernah saya alami. Untungnya saya bukan type orang yang suka mengungkit masalah masa lalu bila ada masalah. Entah karena saya memang orang type pelupa atau karena kalau sudah minta maaf dan memaafkan ya sudah. Ngga perlu di inget2 bikin malah ngga iklas maafinnya..

Hal ini memang menjengkelkan dan bisa membuat pertengkaran yang tidak diinginkan menjadi semakin besar.

Pasangan bisa saja melakukannya dengan sengaja karena ini merupakan salah satu strateginya dalam bertengkar demi memenangkan pertengkaran. Kenapa saya beepikiran seperti itu? Karena hanya dengan mengungkit kesalahan masalalalu lawan bicara kita, maka kita akan memenangkan pertengkaran. Dengan alasann sekedar mengingatkan masalah. Tapi bagi saya, saya paling ngga suka dengan orang yang model seperti ini. Masalah yang sekarang kita hadapi bukan masalah masalalu. Kenapa mesti disangkut pautkan.?

Alasan lainnya adalah karena ia masih tidak bisa melupakan dan memaafkan hal tersebut secara tuntas sehingga selalu dibawa ke pertengkaran berikutnya. Hal ini sebenernya yang menjadi bumerang dalam kehidupan kita. Ketika kita memaafkan ya sudah, kita iklaskan. Justru dengan memicu permasalahan mengungkit masalah masalalu akan membuat orang tersebut tidak respect kepada kita. Ujung2 nya bukan perbaikan tapi malah mengarah ke bubarnya sebuah hubungan. Maka dari itu bukan sekali dua kali, coba aja anda lalukan.. Dapat dipastikan lama lama hubungan anda akan bubur. Andaikata tidak bubar, jangan mengharap pasangan memberikan rasa cinta yang sama kepada kita.

Tetaplah berpikir dengan jernih dan jangan terjebak akibat perbuatan yang bisa mengancam hubungan Anda ini.

Coba selesaikan masalah tersebut bersama dengan pasangan ketika sudah tidak bertengkar supaya ia tidak mengungkit-ungkitnya lagi di masa yang akan datang.

Advertisements

Yang namanya masalah sering kali dilihat hanya dari satu sisi. Sisi yang melekat pada kita. Jarang orang melihat sisi lainnya. Apalagi orang yang berkenaan langsung. Mungkin kalau dari sudut pandang kita. Tentu saja kita akan merasa benar.. Ngga pernah salah. Atau bisa dibilang 99.9% bener..sisi lainnya yang salah. Walaupun dalam hati kecil kita tau kalau kita ada salah tp yang namanya ego kelaparan pasti ngga akan mau disalahkan. Coba kalau kita sedikit mau mengurangi ego kita. Dan melihat lebih luas permasalahan bukan dari sisi kita saja…

Agama dan Ketuhanan

Waktunya lagi pada ngomongin agama dan ketuhanan gegera ada masalah bom surabaya dan sidoarjo yang cukup banyak memakan korban. Baik bagi sipembawa bom dan juga orang yang ngga bersalah.

Banyak yang bilang masalah agama,, keyakinan paham agama yang mereka anut dan semuanya yang mengarah pada janji yang diberikan Tuhan. Dengan doktrin dan pemahaman entah yang bagaimana.

Bagi saya sendiri agama dan ketuhanan berbeda. “Banyak orang belum mengalami Tuhan. Bukan tentang ibadahnya, tapi pengalaman berketuhanannya. Ada yang rajin ibadah, tapi nggak punya iman. Nggak yakin masa depannya dijamin Tuhan.

Ada juga yang ibadahnya transaksional.
Contoh ibadah karena transaksional: Rajin sholat, saat teduh, doa ini atau itu bukan karena pengin dekat sama Tuhan, tapi karena (lagi) pengin sesuatu dan berharap dikasih sama Tuhan.
Atau contoh terekstrim: Bawa bom bunuh diri buat bunuh orang karena menurutnya itu tiket buat ke Surga. Berarti buat kepentingannya kan, bukan kepentinganNya…
Ada juga yang ibadah karena kebiasaan aja. Ada yang kurang kalo nggak dilakukan. Sholat 5 waktu, misalnya. Atau doa sebelum makan. Jadi bukan karena cinta sama Tuhan.

Ada juga beribadah biar keliatan bertobat ( padahal perbuatannya tidak mencerminkan pertobatan). Berdoa nangis nangis.. Rajin.. Berdzikir.. Atau rajin membaca alkitab dan kegereja biar keliatan bertobat setelah melakukan kesalahan. Atau mulai mengaji dan mengikuti pengajian biar keliatan bertobat.

Ada juga yang rajin berdoa karena pas lagi masalah. Entah masalah keluarga. Pekerjaan. Atau masalah sepi nya pemasukan. Dulu saya termasuk kategori seperti ini. Berdoa, sembahyang kalau lagi ada masalah dan ada maunya. Tapi kok lama lama malah jadi saya yang malu sendiri.. Kadang aja saya ngomel kalau ada temen datang pas butuh aja. Lah ini kok kelakuan saya juga kayak gitu. Untung Allah ngga kaya saya yang kadang punya pikiran buruk. Allah maha bijaksana… Dan mulailah sembahyang hanya untuk mengucapkan terima kasih. Kadang meminta aja masih malu.. Walaupun Allah menyuruh kita menyebutkan permohonan dan harapan… Semoga Sang Khalik memberikan kebijaksanaannya.. Menghadirkan penyertaan Allah dalam kehidupan kita.. Amin

Kalau Anda nggak suka dengan Trump karena dia rasis dan intoleran, seharusnya Anda juga sedih ketika ada diskriminasi atas nama ras dan agama.

Kalau Anda nggak suka dengan hukum Islam yang diterapkan di Aceh, seharusnya Anda juga terluka ketika teman dan saudara kita dipersekusi karena mereka terlahir sebagai perempuan, atau punya preferensi seksual yang berbeda.

Kalau Anda nggak suka dengan agama lain yang ajarannya berbeda dengan ajaran agama Anda, seharusnya Anda juga jangan merasa agama Anda yang paling benar dan yang lain sesat.

Kalau Anda nggak suka dengan FPI tapi Anda suka ngotot nggak jelas karena merasa paling benar, paling cerdas, paling bijak, paling berhak atas surga, paling baik, lalu apa bedanya Anda dengan FPI?

Begitu sulitnyakah menghargai pilihan orang lain, memberikan ruang bagi privasi orang lain, dan menerima bahwa setiap kita dilahirkan berbeda, dengan takdir yang nggak akan mungkin sama – dan kita semua dicintai oleh Tuhan yang sama?

-dear connie-

Nduwe roso neng ora iso rumongso. Bukan hal yang mudah apabila ini dikatakan. Semua orang mempunyai rasa.. Tapi tidak semua orang bisa merasakan.. Ngerumangsani kalau bahasa jawanya. Untuk mencapai yang namanya rumongso, butuh yang namanya kerendahan hati. Dan ngga semua orang bisa.

Kerendahan hati untuk mengakui kesalahan. Padahal andaikata diakui pasti akan membuat hidup semakin lebih ringan. Kembali kemanusianya masing masing.

Semoga senantiasa diberikan kerendahan hati

21.02

Bangga sama diri sendiri itu wajar dan harus, tapi kalo selalu pamer… ada yang salah nih. Orang yang tulus itu rendah hati dan nggak tertarik buat nunjukkin kehebatan, kekerenannya terus-terusan.
Semua orang pasti caper dengan cara dan gayanya masing-masing, tapi orang yang palsu capernya nonstop. Sementara, orang yang tulus nggak keberatan kalo temannya yang kadang jadi pusat perhatian.
Orang yang tulus nggak repot nyari sahabat, sementara yang fake sibuk banget bikin circle ini itu dan merasa bangga banget kalo bisa masuk gengnya orang yang bisa naikin gengsi.
Buat naikkin status kenalan jadi teman butuh waktu, apalagi dari teman ke sahabat. Kenapa? Karena nggak semua orang bisa dijadiin sahabat. Jumlah orang yang tulus sama yang palsu mungkin hampir sama.

Ada gula ada semut… Somepeople “love us” ketika kita menguntungkan untuk mereka. Dan ketika kita tidak menguntungkan tentu saja kesetiaan akan berhenti. Dan memang terkadang seperti inilah hidup. Mau ngga mau diterima dan disyukuri. Setidaknya kita tau karakter teman atau orang yang dekat dengan kita seeperti apa.