Nunik ~ Part 2 ~

Setelah mengenal sebut saja Nunik. Salah seorang teman meminta saya membantu agar barang tersebut di lelang. Mengingat ls tdk terpenuhi. Dan si Nunik memang dijanjikan Dayat untuk mendapatkan barang ( yang bukan miliknya ) dengan lelang.

Ahkirnya, tahap pertaama pengerjaan dijalankan. Dan daalam sebulan 1 proses telah di lalui. Kami sampaikan bukti pengerjaan. Dan hitungannya. Kami dibayar sesuai dengan invoice yang keluar. Dan jasa kamipun belum dibyar. Dengan alasan belum lelang.

Tahap kedua dijalankan. Kami menggunakann orang ketiga dalam menyelesaikan masalah ini. Menginat saya kurang expert di bidangnya. Kamipun meminta dana untuk pengerjaan. Tapi sama si Nunik tidak diberikan. Malah salah seorang teman kami. Mencarikan pinjaman si Nunik untuk pengerjaan ini. Biaya pengerjaan kami kirimkan ke Vendor. Tanpa mengurangi sedikitpun. Dengan uang pinjaman salah satu teman kami.

Memberi dari kekurangan. Terima kasih ( sebut saja Mang Oddy ) ..suksma.

Disempet2 in minjemin uàng si Nunik. Karena kasihan.

Nunik ~ Part one ~

Sebut saja namanya Nunik. Ibu haji dari kediri caleg dari salah satu Partai. Saya mengenalnya setahun yang lalu. Ketika ditelp oleh salah seorang temen saya, kalau ada orang yang minta dibantu mengeluarkan barangnya dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Saya pertama kali bertemu di kopi bangi tiam, kelapa gading. Entah kenaapa saya tidak begitu respect saat pertama kali bertemu. Bagaimana tidak. Dengan baju berbalut hijab. Dia tinggal sekamar dengan lelaki yang sudah beristri. Dan disini pandangan saya sedikit merasa agak gimana gitu. Tapi karena pekerjaan lets we ignore this.

Pada saat itu si Nunik ini meminta saya untuk mengeluarkan barangnya. Wajar dong saya tanya. Ibu yang punya barang ? Dan dijawab iya. Setelah itu saya menanyakan dokumen yang berkenaan dengan barang tersebut. Dan ajaib bin ucip. Dia hanya mempunyai foto coppy BL. Saya tanyakan lebih jauh. Adakah dokumen lain ? Jawabannya ngga ada. Dalam pikiran saya. Bagaimana mungkin pemilik barang hanya mempunyai coppy BL tanpa cafatan yang lainnya. Seperti packing list dan invoice.

Usut punya usut baru saya tau kalu ternyata si Nunik ini membeli barang tersebut ( mengaku aku ) brang tersebut punya nya dari Mr D ( sebut saja Dayat ). Dan si Nunik ini ternyata di iming imingin rayuan mr Dayat, kalau dengan uang sekian bisa mengeluarkan. Wajar. Di priok banyak banget mulut berbusa seperti itu. Setelah mengeluarkan uang beberapa puluh juga. Dan barang tidak keluar. Barulah si Nunik minta tolong saya. Anyway, disebut apaaakah kkalau orang yang mengaku membeli bbarang. Dan ternyaata baraang tersebut punya orang yang sengaja digelapkan oleh mr Dayat. Apakah tergolong korban atau penadah ?

Apakah si Nunik yang korban dan mr Dayat penadah ?

Atau si Nunik penadah dan mr Dayat makelar penadah ?

_ part one _

Ketika merasa..

Ketika kita merasa sudah menjadi baik. Pasti akan susah memperbaikinya

Ketika kita merasa pintar. Pasti akan susah pula diajarin

Dan ketika kita merasa benar. Maka pasti semuanya dianggap salah. Dan kita pasti akan semakin tinggi keinginan untuk merendahkan.

Bukan hal yang baru bagi kita mungkin. Kenapa mengajari orang orang yang merasa pintar itu susah. Setiap omongan dan ilmu yang disampaikan tidak akan dipahami bener 100%, mungkin baru 80% aja sudah merasa bisa. Dan mereka kekeh dengan pendiriannya. Bahwa mereka lebih pinter dari orang yang menjelaskan.

Dikepala mereka hanya terbersit apa yang dia serap. Apa yang dia tau dan alami tanpa mempertimbangkan respon apa dari luar. Bahkan dlam suatu kasus masalah, biasanya orang orang yang merasa pintar tidak pernah ingin mengetahui ataupun mendengar lawan bicara. Mereka hanya mendengar sebagian. Menjawab sedikit saja argumen atau pertanyaan orang lain. Dan selebihnya asyik dengan pikiran mereka yang merasa bahawa mereka lebih pintar.

Selanjutnya akan pada tahap bahwa mereka merasa benar. Ditahap ini susah banget orang mau memahami posisi orang lain. Hanya mereka yang seolah olah benar. Pertanyaan dan opini orang lain tidak akan menjadi ada dalam benak mereka 100%. Bagi mereka ya mereka benar dan orang harus bisa menjawab pertanyaan mereka – sementara pertanyaan dan opini orang lain salah.

Bagi saya mereka adalah orang orang yang egonya sangat rakus. Ego yang kelaparan dan tidak pernah puas dengan apa yang ada selama ini. Semoga egoku kenyaang dan tidak kelaaparan sebagaimana ego yang rakus.

Your perception of me is a reflection of you : my reaction to you is an awareness of me.

A week ago, one of my friend said her perception about me. She said that I am not a nice person – I allways talking with others as I want without thinking about their feeling. But whatever she said I don’t care. I don’t ask her to be nice with me. They had opinion and perception that she was build by herself  – and I don’t want to push her same perception with me. But also don’t ask my reaction with her. If she has perception that I am not a nice person – I also rather difficult to close with her. Because the perception that she has built in their head

Cemilan siang hari…

untitled

Dalam satu pembicaraan singkat di sebuah café Artha Gading siang itu, saya bertemu dengan salah seorang temen lama. Mengenang masa masa jaman di sekolah, kangen dengan cerita konyol jaman dahulu dan cerita tentang aktifitas sekarang menjadi topic yang panas siang itu. Kita bertemu setelah sekian tahun lulus sekolah – dan bertemu dalam group komunitas yang sama ( salah satu Group WhatsApp ). Hal yang sangat luar biasa media satu ini. Mungkin kalau ngga ada tehnology yang seperti ini saya ngga akan pernah ketemuan sama temen temen lama yang entah dimana mana sekarang. Tapi tidak jarang jg, mengingat banyaknya anggota di group. Ada juga yang beberaapa kali masalah muncul diantaranya, rebut permasalahan omongan sampai ada juga yang cinta dari WhatsApp group ini.

Namanya group banyak orang juga banyak kepala, mulut dan karakter. Siang ini topic berkisaran tentang bagaimana masalah cinta lama yang muncul kembali. Dari yang ejek ejekan di group sampai japri luar group yang sangat luar biasa kencengnya, dan sampai ahkirnya cinta lama pun kembali muncul. Permasalahan yang muncul ketika cinta dating kembali – adalah posisi yang sdh tidak sama lagi. Yang satu masih dalam ikatan pernikahan – yang satu sudah selesai ikatan pernikahan. Dan semuanya berahkir dalam masalah yang ribet dan ruwet. Pertemanan dengan beberapa temen di dalam group yang baru ketemuan juga sedikit bermasalah ketika adanya konflik ini.

Bukan hal yang aneh sebenernya dimasa usia masih dlam pernikahan banyak yang melakukan kesalah dengan komitmen. Ada yang sekedar mencari temen ngorol dengan masalah masalahnya, yang berawal dari obrolan sederhana ahkirnya seperti menjadi sebuah ketergantungan satu sama lain. Lebih deket dengan temen yang diajak curhat daripada dengan orang yang diajak komitmen. Dan berawal dari curhat ini lama lama menjadi nyaman, hingga ahkirnya mengarah ke pertemuan dan yang jelas bakalan tambah runyam lagi. Ketika pasangan mengetahui dan meminta untuk meninggalkan, adanya juga malah pemiikiran yang mencari pembenaran sendiri. Ah, terlalu panas untuk dibicarakan siang ini. Sudahlah…anjing tidak akan menggonggong kalau tidak ada sebabnya,

~ Mulut ~

Sometimes, mulut bisa menjadi manis. Namun bisa juga menjadi pahit. Berawal dari adu mulut sala seorang temen di group yang tersinggung dengan bercandaan temen. Mungkin juga lagi sensi, kita ngga tau. Tapi saya sarankan kalau mood lagi ngga bagus. Mendingan jangan banyak melihat group dan comment. Hasilnya pasti akan banyak terjadi persinggungan.

Kembali ke masalah persinggungan bahasa dalam penggunaanya memang sudah beberapa kali terjadi dlam group whatsapp ini. Kalimat bercandaan yang biasa pun. Kau ngga tepat penempatannya, dan pada saat penerima ngga mood juga akan menjadi masalah. Jadi sebaiknya, kalau memang lagi ngga mood ~ diam adalah cara terbaik.

Namun tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan diam. Ada yang hanya diam untuk tidak memperpanjang. Namun hatinya masih dongkol. Lha typical yang seperti ini yang sedikit berbeda. Kenapa? Karena pada waktunya nanti. Hal seperti ini akan terulang.

Kalau saya cenderung untuk bertanya. Bertanya ada yang sekiranya menjadi penyebab permasalahan dintara kami. Bukan membuka konflik tapi mencari solusi untuk menyelesaikan konflik tersebut. Sehingga dikemudian hari bisa tau kedepannya. Apa yang menjadi permasalahan. Dan berusaha tidak mengulang.

Sama halnya ketika salah seorang temen saya mengatakan bahwa saya mempunyai √ mulut √ yang sama dengan salah satu temen di group. Yang dikategorikan bahasannya ^ kasar ^. Dan ketika saya mempertanyakan ke temen saya. Apa yang membuat orang berpikiran seperti itu? Apakah saya pernah berkata kasar. Apakah saya pernah memaki maki, seperti temen dengan bahasa yang kasar tadi? Dan jawabanya katanya tidak. Tapi saya diminta memfoto mulut saya dan mulut temen tersebut untuk melihat persamaan. Jawaban yang sedikit konyol untuk saya sebenernya. Atau jawaban yang terlalu tinggi buat saya dengan bahasanya.

Apapun itu masalahnya. Bukan menggabungkan foto mulut yang utama. Tapi bagaimana kita menanggapi suatu masalah. Jangan hanya diam. Karena diam juga tidak akan menyelesaikan masalah.